Katanya Goettingen Kota Sepeda

“Heyy..Rodamat!!!”

_Goettingen 2012/2013_

 

ImageSepeda di kota ini begitu ramainya. Bayangkan, jika dibandingkan jumlah bus ditambah dengan mobil dan sepeda motor, oh ya plus kereta juga, jumlah sepeda masih menang telak. Bagaimana tidak, hampir seluruh mahasiswa di sini memiliki sepeda, entah punya sendiri, warisan atau membeli dengan harga 0 euro (aha, kaget?). Kok bisa?

Seperti aturan siapa yang dominan maka dia yang berkuasa. Begitu pula halnya dengan sepeda. Ia punya jalur jalan sendiri, punya parkiran sendiri, punya bengkel sendiri, dan punya aturan strict yang membuat saya juga ber-Ohhh ria ketika pertama kali hidup di sini.

Jalur sepeda sengaja dipisahkan dengan jalur  pejalan kaki dan jalur utama bagi mobil danImage sepeda motor. Padahal, jelas-jelas di sini hampir tidak pernah macet. Jumlah mobil yang melintas sedikit dan tentu saja tidak ada angkot (memangnya Indonesia?). Satu-satunya alat transportasi umum dalam kota yang bisa dinikmati oleh semua orang adalah bus yang jadwalnya sudah diatur dengan sangat baik dan tepat waktu. Tentu saja tidak gratis. Karena penumpang tetap harus membeli tiket bus dengan harga 2 euro per orang untuk sekali jalan, dan 9,8 euro untuk gruppen. Single ticket (2 euro per orang) bisa digunakan free meskipun berganti-ganti rute dan bus asalkan tidak melebihi batas waktu satu jam. Sedangkan gruppen ticket lebih enak lagi, karena bisa digunakan seharian dua puluh empat jam semau penumpang. Dan lebih hemat karena bisa dipakai maksimal ber-lima.

Ah, sepeda tetap saja tidak terkalahkan. Coba bandingkan dengan mobil. Jelas tidak bisa terbeli (haha), dengan sepeda motor apalagi. Kalau dengan kereta, masa mau naik sepeda ke luar kota?

Karena perannya dan harganya yang miring, sepeda alhasil menjadi pilihan sebagian besar mahasiswa dan non mahasiswa di sini. Bahkan saya pernah menyaksikan salah seorang pengajar saja -Dr….- juga membawa sepeda di dalam kawasan kampus. Woww…

Harga sepeda di sini bermacam-macam, dari yang levelnya 0 euro sampai skala ribuanImage euro. Kalau mau yang paling murah, maka rajin-rajinlah berkeliling apartemen-apartemen atau jalanan, dan pasang mata baik-baik, kali aja ketemu sepeda gratis. Kalau mau yang murah tapi nggak murahan, bisa cari di flohmarkt karena biasanya terdapat dua, tiga sepeda dijual di sana di minggu pertama setiap bulannya. Harganya berkisar antara 30 sampai 50 euro. Kualitas, yah lumayan lah. Paling nggak enam bulan bisa bertahan. Bahkan kalau kita lucky, bisa setia sampai lulus kuliah. Kalau saya, kebetulan punya kenalan yang juga menawarkan jasa penjualan sepeda second hand di sini. Sama-sama orang Indonesia. Harganya nggak jauh beda, berkisar antara 50-70 euro per sepeda. Sebut saja -bang….-. Enaknya, beliau juga sekaligus menawarkan jasa servis dan kerusakan-kerusakan pada sepeda yang dibeli. Asyikkk kan?

Nah, kalau  mau yang lebih mahal lagi, bisa langsung membeli baru dengan harga berkisar 200-an euro. Seperti salah seorang teman saya dari Indonesia baru membeli sepeda baru seharga segitu. Itupun sudah dipotong diskon katanya. Kalau sudah begini, maka siap-siap saja paket pengiriman ke Indonesia begitu lulus kuliah.

So, tinggal memilih sesuai dengan tingkat kedalaman kantong masing-masing.

Selain memiliki harga dan jalur sendiri, sepeda ini juga punya aturan sendiri yang membuat pengendaranya harus sedikit berhati-hati. Apa sajakah mereka? Pertama, kalau sudah punya sepeda jangan lupa lampunya. Dan kalau sudah punya lampu, jangan lupa dinyalakan di malam hari (hehe). Resikonya adalah tagihan 45 euro ke email masing-masing. Kalau lagi apes (sedang ada patroli polisi), pengendara bisa didenda sejumlah yang di atas hanya untuk kesalahan tidak menyalakan lampu sepeda. Dipikir-pikir, sebenarnya ini ada benarnya juga. Coba sekali-kali mengendarai sepeda tanpa lampu di malam hari di jalanan yang gelap. Kalau kebetulan kita sedang berpapasan dengan orang yang juga tidak menyalakan lampu sepeda (atau memang tidak memiliki lampu sepeda), maka bisa berabeh urusannya. Sama-sama tidak melihat, sama-sama kaget dan sama-sama… (silahkan ditebak sendiri ending-nya).

Kedua, jangan sekali-kali melanggar rambu-rambu lalu lintas, khususnya lampu lalu lintas. Kalau sampai terjadi dan kebetulan sedang apes, 45 euro bisa melayang. Dan ini terjadi pada salah seorang teman saya dari China. Menurut cerita, pada saat itu dia sedang menyeberang jalan dan tidak yakin apakah lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna merah atau memang masih hijau. Tetapi yang pasti, dia didenda sejumlah 45 euro atas kesalahan mengabaikan lampu merah. Beberapa bulan kemudian, surat tagihan pun datang ke emailnya dan harus dibayar.

Ketiga, ketika mengendarai sepeda pastikan kita sedang berada di jalur yang benar (red: bukan jalur pejalan kaki).

Keempat, waspadai musim dingin. Mengapa? Karena ini bisa membuat gembok sepeda menjadi beku karena udara yang kelewatan dingin. Akibatnya, gembok menjadi susah sekali dibuka. Nah, kalau sudah begini plisss jangan dipaksa. Kalau ya, jadi deh seperti saya. Pada waktu itu kebetulan insiden gembok sulit dibuka terjadi. Dan, karena dipaksa diputar akhirnya kuncinya malah patah. Karena bingung, sementara sepedanya diparkir di parkiran stasiun kereta (bahnhof), akhirnya saya inisiatif meminta tolong ke toko sepeda yang berada di sebelah stasiun. Bukannya ditolong, yang ada urusannya malah jadi rumit. Saya juga baru tahu kalau harus menghubungi polisi dulu baru sepedanya bisa dibuka. Mengapa? Karena mereka ingin memastikan bahwa sepeda yang dimaksud benar adalah sepeda saya. Nah loh? Padahal saya kan beli second hand. Dan, kalau melapor ke polisi berarti akan diminta bukti pembelian sepeda. Ribet yah,,Untungnya bisa minta tolong ke kenalan tempat saya membeli sepeda dan jadi deh tinggal semprot dengan sejenis cairan (WD 40) semuanya beres.

Kelima, boleh juga cairan (WD 40) digantikan dengan minyak goreng. Katanya pengaruhnya sama. Tetapi pada suhu dingin yang ekstrem, minyak tetap akan membeku.

Keenam, benar kata pepatah, kalau nggak siap jatuh jangan naik sepeda (ha, ini pepatah mana ya?). Belum naik sepeda namanya, kalau tidak pernah jatuh selama salju turun. Ini  sudah jadi pemandangan umum. Pada kondisi seperti ini, mau jalan kaki juga tidak mengurangi risikonya.

Dan, kalau kembali melirik Indonesia.

Ternyata di sini, gagasan mengembangkan sepeda sebagai alternatif alat transportasi bebas macet sudah mulai dikembangkan loh. Sebut saja, Ridwan Kamil arsitek sekaligus konsultan tata kota sangat bersemangat mengembangkan idenya menyediakan sepeda sewaan di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Solo dan kota-kota lainnya. Idenya bagus. Apalagi sepeda kan lebih fleksibel dan tidak membutuhkan bahan bakar serta ramah lingkungan. Ini bisa jadi alat transportasi alternatif dalam kota. Namun, dipikir-pikir kalau hanya menyediakan sepeda (alat) tanpa disertai penyediaan jalur dan peraturan khusus, tampaknya ide ini masih kurang sempurna. Bagaimanapun tidak bisa dipungkiri kepadatan dan kemacetan di jalanan kota bernama Jakarta bahkan tidak menyisakan satu ruang pun ketika sudah jam pergi dan pulang kerja kantor. Yah, kecuali pengendaranya berinisiatif mencari jalur memotong melalui jalan setapak. Tetapi pengalaman loh, pada saat jam-jam pulang dan pergi kantor jalan-jalan seperti ini pun tak kurang padatnya.

****

### puspichanpalazzo

Photos:

http://www.daad.de

http://1.bp.blogspot.com

http://www.uvm.edu

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s