Air Tojin

 

Kalau ada voting harga produk murah di Jerman, maka salah satunya pasti harga susu. Beneran loh, harga susu di sini murah sekali. Bahkan lebih murah dibanding harga air mineral. Mengapa demikian? Ini dikarenakan kebijakan subsidi yang sangat besar di bawah Common Agricultural Policy (CAP) untuk kawasan Uni Eropa. Peternak di sini menerima subsidi sekitar 5 milyar euro per tahun melalui skema single payment

Jadi, jangan kaget kalau ada yang mengkonsumsi susu sampai satu liter per hari. Mengingat harga susu per liter (3,5 % fat) hanya 0,60 euro. Dan jangan kaget juga kalau pipi dan BMI pelajar-pelajar asing (sebut saja: Indonesia) melonjak setelah beberapa bulan tinggal di sini.

Karena harga yang rendah, konsumsi susu per kapita di negara ini juga sangat tinggi. Menurut sumber, konsumsi susu per kapita di Jerman adalah sebesar 247, 24 kg/kapita/tahun (2007). Angka yang tinggi sekali bila dibandingkan dengan Indonesia pada tahun yang sama hanya sebesar 7,12 kg/kapita/tahun. Bahkan bila dibandingkan dengan negara Asia lainnya pun, Indonesia masih menempati angka terendah.

Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari harga susu dan produk olahan, serta budaya masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih belum terbiasa minum susu, sebagian bahkan ada yang katanya alergi susu. Bahkan kalau ada yang berasal dari daerah-daerah yang jauh dari ibukota seperti ujung sumatera misalnya, hampir sulit sekali ditemukan susu siap minum dalam bentuk Ultra High Temperature (UHT), susu steril atau susu pasteurisasi. Kebanyakan masih susu bubuk dan susu kental manis, dan sebagian mungkin air tojin (haha).

Kalau ada yang tahu apa itu air tojin, maka mungkin kita berasal dari daerah yang sama (ini kata saya dan salah seorang adik kelas saya – sebut saja zaidil – ). Kalau sekarang kita menggunakan rice cooker untuk memasak nasi, hanya butuh usaha mengambil beras, cuci, masukkan ke dalam rice cooker dan tunggu sekitar 15 menit sambil facebook-an, maka lain halnya dengan 20-an tahun silam. Ketika periuk (red: sebuah wadah pemasak nasi) menjadi alternatif, maka cara memasak nasi dibagi menjadi dua tahap. Nah, pada tahap pertama ketika beras dimasukkan ke dalam periuk beserta airnya dan dimasak beberapa saat. Ketika air di dalam nya meletup-letup maka saat itulah air tojin siap dituang ke dalam gelas.

Penampakannya putih dan kental. Rasanya jangan ditanya. Pada saat itu rasanya enak ketika masih panas, apalagi ditambah sedikit gula pasir.

Sruuuppppp!!!

Anak-anak kecil pada saat itu menganggapnya susu karena dua alasan. Pertama, sebagian besar karena memang tidak bisa membeli susu. Kedua karena penampakannya memang putih layaknya susu. Keluarga miskin yang tidak mampu membeli susu menggunakannya sebagai alternatif. Secara psikologis bisa diterima untuk menyenangkan anak-anak mereka. Secara kesehatan gizi tentu saja tidak cukup dengan air tojin.

Menariknya adalah, anak-anak jadi suka sekali ketika ibunya memasak nasi, menunggu air beras meletup-letup, lalu berebut mengambil gelas. Toh, di keluarga yang mampu menyediakan susu bagi anak-anaknya, air tojin ini tetap dikenal luas. Mengapa? Ya karena memang rasanya enak (menurut anak-anak pada saat itu loh).

“Air tojin!!”

Saya hampir sudah lupa namanya. Tetapi, berpuluh tahun silam di ujung Pulau Sumatera air ini tidak asing di dengar. Di kalangan anak-anak khususnya.

Bagaimanapun alasannya, bukankah ini ironis sekali? Di saat di tahun-tahun yang sama, Jerman dan uni eropa mulai memberlakukan subsidi pada dairy products, di belahan negara lain air tojin begitu terkenalnya.

Bagaimanapun juga, susu tetap memimpin dalam kandungan protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin, dan mineral yang sangat dibutuhkan anak-anak untuk pertumbuhan maupun kecerdasan otak mereka.

Meskipun konsumsi negara kita masih jauh dari negara-negara lainnya, namun semoga dengan ke depan konsumsi susu nasional terus meningkat melalui usaha penetapan kebijakan dan sinergisasi peningkatan konsumsi yang diikuti dengan peningkatan produksi.

Dan, semoga anak-anak masa depan tidak mengenal air tojin dalam cerita masa kecil mereka.

****

cc: Zaidil Firza

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s