The Pathetic Four (Edensor_Andrea Hirata)

Sejak dulu, aku senang mengamati kehidupan. Aku selalu tertarik menjadi semacam life observer, sejak aku menemukan fakta bahwa sebagian besar orang tak seperti bagaimana mereka tampaknya, dan begitu banyak orang yang salah dipahami. Di sisi lain, manusia gampang sekali menjatuhkan penilaian, judge minded. Aku suka mempelajari motivasi orang, mengapa ia berperilaku begitu, mengapa ia seperti ia adanya, bagaimana perspektifnya atas suatu situasi, apa saja ekspektasinya. Ternyata apa yang ada di dalam kepala manusia seukuran batok kelapa bisa lebih kompleks dari konstelasi galaksi-galaksi dan Kawan, di situlah daya tarik terbesar menjadi seorang life observer. Aku bergairah menemukan kelasku di Sorbonne. Mahasiswa-mahasiswa dari beragam bangsa di dalamnya membuat kelasku seperti laboratorium perilaku. Kelasku bukan sekadar ruang untuk belajar science tapi juga university of life.

Selalu berkoar-koar seperti angsa trumpeter, tak lain orang-orang Inggris, The Brits. Mereka paling meriah dan bermulut besar. Belum selesai dosen bicara mereka tunjuk tangan: bertanya, berteori, membantah, mengeluh, protes, atau terang-terangan mengajak bertengkar. Namun, meski mereka provokatif, konfrontasi mereka beradab. Ini tak lain produk sekolah yang membiasakan mereka berbeda pendapat secara positif sejak usia dini.

Ada empat orang Amerika di kelas kami dan kaum Yankee ini bertabiat sepadan dengan leluhurnya, orang-orang Britania itu, tapi terdapat sedikit perbedaan. Dalam diskusi, kelompok Amerika cenderung mendominasi, intimidatif, penuh intrik untuk mengambil alih kendali, lalu membangun aliansi. Perangai yang tak asing, bukan?

Prestasi akademik The Brits and Yankee fluktuatif. Sesekali paper mereka mengandung terobosan yang imajinatif. Misalnya, ketika mengobservasi perilaku konsumen lewat konstruksi kubus, mereka membuat survei yang kreatif untuk mendeteksi perubahan paradigma utilitas konsumen dari waktu ke waktu. Ide-ide cemerlang mereka sampai dapat mengubah silabus mata kuliah perilaku konsumen. Dosen sering menghargai mereka dengan nilai tres bien alias bagus sekali.

Selalu duduk di tempat duduk yang sama di tengah kelas, pasti hadir sepuluh menit sebelum acara, taktis, metodikal, dan sistematis, adalah beberapa gelintir mahasiswa Jerman: Marcus Holdvessel, Christian Diedrich, dan yang paling istimewa, seorang wanita Bavaria nan semlohai, Katya Kristanaema. Mereka tak pernah ribut, sering kikuk, layak-nya orang yang sedang mengumpul-ngumpulkan kepercayaan diri.

Katya, Marcus, dan Christian sangat unggul dalam materi-materi hitungan. Matematika, statistika, dan analisis kuantitaif seperti mengalir dalam darah mereka. Paper mereka jarang menerobos namun intensitasnya mencengangkan. Kajiannya atas konstruksi kubus tadi tak sekadar soal utilitas, tapi sampai pada pembuktian geometri dimensional. Itulah buah manis pendidikan dasar berstandar tinggi di Jerman sana. Ide mereka lebih besar daripada ide The Brits dan Yankees, yaitu bukan hanya mengubah silabus mata kuliah perilaku konsumen, melainkan orang-orang Jerman ini menyarankan untuk sekalian mengubah silabus ilmu ekonomi. Nilai mereka tak pernah kurang dari distingue, artinya excellent, lebih tinggi dari tres bien. Ketiga orang itu adalah orang-orang terhormat, para atasan di kelas kami.

Namun, majikan kami yang sesungguhnya adalah dua orang gadis pendiam yang agak ketinggalan zaman di belakang sana. Nilai mereka jauh di atas tres bien atau distingue. Nilai mereka Parfait! Sempurna! Jika menulis paper tentang observasi perilaku konsumen melalui kubus, mereka membongkar kubus itu, sama sekali tak memakainya, lalu mencipta model mereka sendiri. Kecerdasan mereka tak terkejar siapa pun. Keduanya sudah digadang akan mengantongi summa cum laude jika mudik nanti. Ide mereka lebih gila lagi, tidak sekadar mengubah silabus ilmu ekonomi seperti usulan Katya, Marcus, dan Christian, tapi mereka ingin mengubah Universite de Paris, Sorbonne! Saat dosen menjelaskan, kedua gadis itu mendongakkan kepalanya yang besar berumbai-rumbai kuning, matanya terang, telinganya terpasang, jidatnya serupa radar mentudung6 microwave, siap menangkap ilmu dalam frekuensi berapa pun. Siapakah gerangan kedua supergenius yang dapat melibas panser-panser Jerman itu? Oh, Kawan, ternyata mereka berasal dari negeri terompah kayu yang dulu pernah “mengasuh” kita: Holland!

Saskia de Rooijs dan Marike Ritsema, begitu namanya. Saskia dan Marike tak pernah mengangguk-angguk sok tahu. Hanya sesekali keningnya berkerut, pasti sedang tak setuju dengan ucapan dosen, tapi tak lantas menunjuk untuk protes seperti aksi The Brits dan Yankees. 

Hanya Abraham Levin, Y’hudit Oxxenberg, Yoram Ben Mazuz, dan Becky Avshalom yang sesekali dapat menyaingi Saskia dan Marike. Orang-orang Yahudi itu sangat genius. Sering aku menduga kalau Y’hudit dan Yoram sebenarnya lebih pintar dari Saskia dan  Marike, tapi kedua orang itu tak terlalu ambil pusing soal nilai. Mereka tak suka perkara sepele. Mereka hanya tertarik pada sesuatu yang besar dan revolusioner. Meskipun baik hati, mereka menjaga jarak dengan siapa pun. Pada jam istirahat mereka berkumpul di bangku taman. Levin bicara dengan tenang sambil membelai cambangnya yang telah dipelintir. Mereka selalu seperti sedang merencanakan sesuatu. Ide mereka lebih besar dari ide Saskia dan Marike yang ingin mengubah Universitas Sorbonne. Ide orang-orang Yahudi itu adalah mengubah Prancis.

Pribadi-pribadi yang paling mengesankan diperlihatkan para tuan rumah, orang-orang Prancis: Charlotte Gastonia, Sylvie Laborde, Jean Pierre Minot, dan Sebastien Delbonnel. Mereka seperti selalu terinspirasi semangat revolusi Prancis liberte, egalite, fratemite—kebebasan, persamaan, dan persaudaraan—maka mereka memandang tinggi persahabatan.

Sisanya selalu terlambat, berantakan, dan tergopoh-gopoh adalah The Pathetic Four-empat makhluk menyedihkan-penghuni jejeran bangku paling depan. Jika dosen menjelaskan, mereka berulang kali bertanya soal remeh-temeh, sampai menjengkelkan. Anak-anak ini melengkapi diri dengan perekam agar petuah dosen dapat diputar lagi di rumah. Norak dan repot sekali. Beginilah akibat penguasaan bahasa asing ilmiah yang memalukan dan efek gizi buruk masa balita. Jika ide mahasiswa negara lain demikian besar sampai ingin mengubah Prancis, ide The Pathetic Four sangat sederhana, yaitu bagaimana agar dapat nilai passable yaitu cukup, lulus seadanya dengan nilai C-, tak perlu mengulang, sehingga dapat menghabiskan waktu sejadi-jadinya menonton sepakbola. Biasanya keempat orang itu mengangguk-angguk takzim saat menerima kuliah. Lagaknya seperti paham saja, padahal tak tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka itu Monahar Vikram Raj Chauduri Manooj, Pablo Arian Gonzales, Ninochka Stronovsky, dan aku. Kami blingsatan, terbirit-birit mengejar ketinggalan.

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s