Menulislah (Sharing oleh Andrea Hirata di Leipzig)

Image

“Lihat (sambil menunjuk rak buku stand penerbit Hanser Berlin). Hari ini buku saya yang terpajang di sini, maka besok atau lusa harus buku kalian yang dipajang di sini”

-Andrea Hirata, Leipzig-Jerman 16.03.2013-

 

Penampilannya biasa saja. Selalu begitu. Setelan kaos, jeans dan topi. Enough.

Hari ini 16 Maret 2013, berempatbelas rombongan PPI Goettingen dan Kassel ditambah satu orang lagi yang memang asli Leipzig, mengunjungi Andrea Hirata membawa misi minta tanda tangan, foto bareng dan melakukan wawancara untuk radio PPI Goettingen. Uhuyyyy..

Jangan tanya tentang perjalanan. Kalo ada yang belum pernah merasakan berdesak-desakan di kereta selama di Jerman, maka hari inilah saatnya. Kalau sudah begini kami cuma ingin mengingat-ngingat terus bahwa come on…this is not Cikini or Manggarai, this is not… sepanjang perjalanan selama 27 menit dari Halle menuju Leipzig haufbahnhof. Mengapa? Karena hari ini pada tempat yang sama dengan book fair yang menjadi tujuan kami juga tengah diadakan cosplay. Sebagian mungkin sudah tahu, cosplay adalah semacam meet up dimana orang-orang mendandani diri mereka sesuai tokoh komik, animasi, video game atau film. Dengan tujuan yang sama, jadilah berdiri sepanjang perjalanan.

****

“Menulislah dengan gaya kalian sendiri”

“Kenapa begitu? Karena writing sejatinya tidak bisa diajarkan. Kalau saya mengajarkan menulis pada kalian, maka kalian akan meniru gaya menulis saya. Padahal setiap orang punya gaya menulis masing-masing. Silahkan menulis sesuai gaya masing-masing. Tapi, ada yang namanya sharing. Kalian bisa sharing dengan saya atau dengan penulis-penulis berpengalaman lainnya.”

****

Die Regenbogen Truppe

Di Indonesia kita sebut Laskar Pelangi. Kalau di Indonesia harga novel ini sekitar 50 ribu sekian rupiah, maka di Jerman harus merogoh kocek 19.90 euro plus bonus tanda tangan penulisnya langsung hari ini di Leipzig dalam acara launching novelnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Ihiyyyy…Oh ya, plus foto bareng juga.

Sebenarnya stand buku tempat kami berkumpul dan menyalakan perekam handphone, camdig, DSLR masing-masing itu tampak biasa saja kecuali tulisan “Hanser Berlin” yang sengaja mengambil tempat lebih tinggi. Beberapa dari kami baru tahu kalau penerbit ini salah satu penerbit yang high bargaining di Jerman.

Bukan pertama untuk pertama kalinya novel Laskar pelangi di terjemahkan ke dalam bahasa asing. Sampai saat ini sudah ada 24 versi bahasa Laskar pelangi. Wow.. Menurut Andrea, menerbitkan buku di luar negeri itu isn’t an issue anymore. Kenapa?
“Coba sekarang anda pergi ke stand di sebelah sana, namanya ——-(sensor), selama anda punya tulisan yang siap untuk diterbitkan, anda submit hari ini besok bisa langsung jadi. Tapi, pertanyaan selanjutnya adalah apakah anda mau karya anda diterbitkan oleh siapa saja? Pilih-pilih tetap penting.”

Selain itu menurut Andrea juga penting untuk dipahami dengan baik perbedaan pembaca di Indonesia dengan pembaca asing khususnya di Eropa. Di Indonesia, setelah kita merdeka tahun 1945, pengaruh teknologi siaran audio visual sangat besar. Akibatnya, bangsa kita terbiasa menjadi bangsa penonton. Kita berpikir dalam tiga dimensi,audio visual. Jadi, kalau kita membaca sesuatu, kita berimajinasi seolah kita sedang melihat sendiri ceritanya di dalam pikiran kita dalam bentuk film

Nah, bedanya kalau di luar negeri mereka lebih dulu dipengaruhi oleh teknologi mesin tik dibanding teknologi siaran audio visual. Akibatnya apa? Mereka terbiasa menulis. Dan, tulisan mereka tidak tiga dimensi, tidak membawa pembacanya berimajinasi atau melihat dalam layar audio visual di dalam kepala mereka. Mereka ringkas, tidak suka bertele-tele dan tidak deskriptif berlebihan. Jikapun ada kata atau istilah yang asing bagi negara tertentu, cukup menjelaskannya ringkas, tidak perlu dari skala tiga dimensi.

Trus, apa yang membuat Hanser Berlin tertarik menerbitkan Laskar Pelangi? Ini karena setelah membacanya mereka menilai novel ini bagus dari dua hal. Dan dua hal ini juga sangat penting sebagi syarat naskah novel seperti apa yang bisa diterima di luar negeri. Pertama, culture. Kita punya culture yang tidak sama dengan negara asing. Jadi, kalau seandainya kita menulis tentang technology, maka mungkin peminatnya akan sedikit. Dan, Laskar pelangi ini punya culture itu. Kedua, seorang profesor merisensi Laskar pelangi dan berkata:

“Biasanya, novel-novel karya Indonesia itu sarat dengan kepahitan. Tapi, kali ini Laskar pelangi pahit tapi manis.”

****

 “Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang pohon filicium tua yang riang meneduhiku…” Begitu kira-kira Andrea membacakan dua kalimat pertama Laskar Pelangi.

“Coba lihat, betapa sederhananya kalimat-kalimat novel ini-seperti kalimat anak kelas 4 SD-. Tapi, terkadang kita sering dilingkupi oleh mitos-mitos, bahwa yang namanya karya sastra itu harus runyam yang pada akhirnya menghambat kita sendiri. Tanpa kita tahu bahwa di luar sana orang mencari-cari kisah-kisah yang eksotis, yang diceritakan dengan cara yang pure dan simple. Dan, kisah-kisah itu ada secara kultural. Lihat saja kisah-kisah kalian masing-masing, kalau dilihat itu luar biasa-bisa sampai di sini (red: Jerman) 33 derajat celcius setiap hari the whole year, eh tiba-tiba jadi minus 10, it’s a story

” Dan Anda-Anda orang terpilih, harus punya legacy, sesuatu yang ditulis. Kalau saya bisa, maka anda-anda juga harus bisa.”

“Jangan jadi penulis yang baru nulis tiga lembar trus berakhir di dalam lemari (red: tulisannya maksudnya). Dan, kalau anda berniat serius menulis, maka  mulailah bergaul dengan para penulis.”

“Khususnya kepada PPI saya katakan, saya siap membimbing kalau kalian benar-benar komitmen untuk menulis. Silahkan kirim ke email saya, nanti akan saya baca, beri masukan dan arahan, saya berjanji

“Dan, sebagai penulis saya katakan; komitmen itu penting.”

****

Saat ini Andrea telah membangun sebuah sekolah di Balitong, dan dia sendiri juga ikut terlibat sebagi pengajar Matematika dan Bahasa Inggris. Kalau mendengar ini, jadi teringat Phunsukh Wangdu-nya Tri Idiot, sama-sama membangun sekolah setelah mereka sukses dengan cara mereka sendiri soalnya. Yaaaa…cuma bedanya ini Andrea Hirata, si penulis novel. Selain itu dia juga membangun museum sastra (literary museum) pertama di Indonesia. Museum ini berada di desa Gantong, Belitong. Menurut sumber, tujuan museum ini adalah untuk menginspirasi generasi muda Indonesia agar pantang menyerah dan berani bermimpi sesuai dengan semangat laskar pelangi, serta demi melestarikan nilai-nilai luhur pendidikan. Selain itu juga sebagai learning centre dan media untuk mengapresiasi karya-karya sastra dari para penulis baik di dalam maupun di luar negeri.

Terakhir, pesan beliau yang penting adalah,

“Kalau berkesempatan main ke Balitong, silahkan hubungi saya. Tidak perlu menyewa hotel atau villa, tinggal di rumah saya saja, nanti saya ajak keliling-keliling Balitong.”

Ber-empat belas: serentak nyengirrrr…

Siapa yang gak mau liburan ke Balitong, onedays must be…amin

****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s