Bangun cinta -bukan sekedar jatuh cinta –

Cinta adalah kata tanpa benda. Mutiara bagi ribuan makna. Wakil dari sebuah kekuatan tak terkira. Tapi ia jelas, sejelas matahari.

****

Anggap saja saya sedang membaca, lalu menuliskannya kembali pada sebaris dua baris. Dia Tereliye. Siapa yang tidak kenal? Owh, come on saya terlalu berlebihan, ibu dan ayah saya tidak kenal tentu saja. Haha..Suatu hari Tere Liye hadir dan memberikan petuahnya tentang cinta pada kita, dan beginilah sebagian dari yang ia katakan

“Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang.”

–Tere Liye, buku “Sepotong Hati Yang Baru”

Cinta itu sepertinya berlebihan kalo dibahas pada sebuah tulisan yang isinya cuma beberapa paragraf. Ia berjuta definisi, kalau ada yang berniat mendefinisikannya. Nyata, tidak lebih tidak kurang. Katakan bahwa kalian tidak pernah jatuh cinta, pembohongan tentu saja.

Hanya bentuknya berbeda. Sebagian membuta, hanya sebagian. Sebagian lain menguap dan sebagian menggenapkan.

Kalau dikata cinta itu rasional, harusnya. Akan banyak yang tidak sepakat tentu saja. Kalau dikata ia mengajukan syarat. Tapi begitulah harusnya. Sebenar-benarnya. Ia tidak pernah buta kawan, tidak pernah. Kalaupun ada, anda sedang terperangkap tentu saja. Ia selalu punya alasan. Tidak kurang tidak lebih. Jadi, kalau saat ini tidak ada alasan menggenapkan diri pada orang yang kita cintai, itu pembohongan.

Tanyakan pada ayah ibu kita mengapa mereka menggenap? Karena cinta itu menggenap di kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing.

Tanyakan pada a-be-ge yang siklusnya putus-nyambung-putus mengapa mereka memutus? (haha, ini tidak direkomendasikan)

Atau tanyakan pada golongan ADK kampus yang aktivitas mereka tertarbiyah dengan baik (red: ikhwan akhwat) yang sensitivitasnya berbeda kalau dikaitkan dengan cinta lawan jenis. Mengapa mereka menikah? 100 persen saya menjamin mereka akan menjawan karena cinta pada Allah.

Selalu ada alasan.

****

Cukupkah dengan alasan?

Bertahun-tahun yang lalu, saya dan teman-teman suka sekali mentarget usia menikah. Dan, sekarang saya bingung, apa juga hebatnya? Tapi kenyataannya senang sekali memberi piala pada yang pertama kali menikah di antara kami. Dan tentu saja dia bukan saya, haha.

Dan derita setelahnya adalah pertanyaan maut, “kapan menikah?”Hufff…argghhhhhhh…menusuk kawan, (lebaii). Ini bukan kata saya loh.

Benarkah menikah itu akhir dari derita membujang? (Preeettttt,,)

Kenapa jatuh cinta? apapun alasannya, antah karena dia, karena orang tuanya, karena Allah, atau karena takdir, kita tampaknya sepakat bahwa setelahnya memang harus menggenap.

”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.”  (H.R. Baihaqi)

****

Ya, aku, kamu, kita akan menikah. Mengakhiri derita membujang bagi sebagian orang. Dan kenyataannya, saya berada di urutan terakhir di antara kita.

Lalu, setelah menikah apa?

Nah, kalo yang ini versi saya (ehem);

“Cinta, menikah. Hidupku dan kamu tidak selesai sampai di sini. Malah, kita harus berlari lebih cepat, melawan waktu aku dan kamu yang tidak muda lagi (harhhh..)

Maka, disini misi itu penting. Ini tidak membicarakan tentang AD/ART tentu saja. Tapi, suatu hari jika aku salah dan kamu merasa benar, suatu hari ternyata jika aku berubah dan kamu masih sama (oh, semoga tidak), atau suatu hari jika aku menua, maka tak ada yang lebih mengeratkan kita berdua selain misi kita. Karena misi yang harus selesai atau lebih tepat tidak akan selesai tanpamu.”

****

Rasional. Sempurna bahkan. Bukan semata mengakhiri ‘masa bujang’, bukan hanya karena pandangan pertama, bukan hanya karena kau ganteng dan saya cantik (uyeee), bukan karena kita setipe, sekarakter, bukan cuma karena aku nyaman dan kau juga.

Ayolah, ini karena kita se-misi. Kau dan aku punya mimpi yang sama yang harus kita wujudkan bersama- di dunia dan di surgaNya-

****

Maka untuk ini, saya memilih kalimat seorang penulis, “bangun cinta, bukan sekedar jatuh cinta”

****

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s