Karena Kami Perempuan

Karena kami perempuan, maka di setiap pilihan hidup ada batasan, ada harapan, ada prasangka, ada kewajiban..


Pendidikan menjadi sangat penting dewasa ini, untuk anak lelaki maupun perempuan. Semua yang mengaku warga negara indonesia pasti setuju akan hal ini mulai dari pendidikan SD, SMP, SMA, D3 sampai S1. Hari gini kalau cuma wajib belajar 9 tahun sih sudah ketinggalan zaman.

Kalau begitu, mari kita lanjutkan sampai S2 dan S3. Kayaknya kalo lagi ada di forum, sebagian besar orang-orang akan serentak mengangkat kepala dan bilang, eitt..tunggu dulu, untuk siapa; anak perempuan atau lelaki? Kalau jawabannya anak perempuan, sudah menikah atau belum? Sudah punya calon pendamping atau belum? Calonnya S2/S3 juga atau tidak? Kemudian mulailah muncul istilah ‘keban-ting’. Aihh..nanti kebanting kalau perempuannya S2/S3. Aihh..nanti kalau perempuan sekolah tinggi-tinggi, susah cari jodoh. Aihh kalau perempuan pendidikannya terlalu tinggi, nanti jadi suka membangkang. Atau yang paling ekstrem, buat apa pendidikan terlalu tinggi, toh tidak ada kewajiban bagi perempuan untuk mencari nafkah, pada akhirnya juga akan ke dapur dan kasur (sedihhh…). Entah sejak zaman kapan, sterotipe perempuan sebagai kaum marginal menjadi populer. Hmm..lebih tepatnya kaum yang menjadi sangat diperhatikan dan rentan terhadap aturan normatif. Bahkan sampai zaman emansipasi, paradigma perempuan sebagai kaum kelas dua masih populer.

Pendidikan bagi perempuan memang sangat penting. Bahkan saat ini, hal ini menjadi isu nasional, isu demokrasi dan gender pada umumnya, serta bagaimana meningkatkan representasi dan kesetaraan perempuan pada berbagai macam sektor nasional. Namun, masalahnya menjadi berbeda jika isu ini kita tarik secara mikro, apalagi secara personal. Coba saja lihat disekitar kita, anak perempuan yang usianya sudah kepala tiga, tetapi belum menikah selalu menjadi sorotan, dibilang perawan tua, ga laku. Tetapi kalau anak lelaki sudah kepala tiga tetapi belum menikah justru dibilang karena masih pilih-pilih atau belum mapan. Anak perempuan yang baru lulus S1, trus mau melanjut ke S2 kebanyakan dikasih wejangan, ‘mending menikah dulu, baru dilanjutin pendidikannya’. Kenapa? Ya jelas, karena orang tua mereka khawatir, kalau sudah lulus S2 akan sulit cari jodoh..kebanting istilahnya. Ckckckck…

Yang sudah menikah lain lagi masalahnya. Menikah masih sama-sama S1 masih nyaman-nyaman saja. Begitu, sang istri mendapat kesempatan melanjutkan kuliah S2, alhamdulillah masih aman. Namun, begitu kesempatannya adalah melanjutkan kuliah S3, masalahnya menjadi berbeda. Entah di sang suami, entah di si istri, istilah kebanting lagi-lagi muncul.

Pada dasarnya, lelaki lebih menyukai menjalin hubungan dengan perempuan yang berpendidikan. Tak heran bila mereka lebih memilih menjalin hubungan dengan perempuan bergelar pendidikan sejajar atau bahkan di bawah mereka. Namun, begitu dihadapkan dengan perempuan yang pendidikannya lebih tinggi, mereka merasa tak pede, takut dianggap tak sepintar perempuan, atau bahkan lebih jauh khawatir perempuan akan lebih banyak membangkang, tidak taat, dan menyepelekan mereka.

href=”https://puspichanpalazzo.files.wordpress.com/2012/08/supermom.jpg”>

Sehingga, di mata budaya kita sederhananya begini, jika anak perempuan punya pendidikan tinggi, maka ia harus sudah menikah, punya calon suami atau suami yang berpendidikan tinggi pula. Sama-sama doktor, sama-sama profesor. Jika anak perempuan punya visi mimpi tinggi, maka ia harus mencari pendamping yang punya visi misi tinggi juga. Memangnya skenario hidup kita selalu seideal ini?
Perempuan dilahirkan dengan boneka, masak-masakan, sebagai mainan. Perempuan diberikan pendidikan pengasuhan dan dicekoki dengan berbagai macam aturan normatif kewajiban sebagai istri dan ibu bahkan sejak mereka kecil. Mereka harus bisa dan pintar masak, mengurus rumah, dan punya karakter keibuan. Jarang sekali ada orangtua yang memberikan wejangan, ‘nak..kamu ntar harus berpendidikan tinggi ya..kalau bisa sampai doktor.’
Padahal tidak sedikit dari perempuan-perempuan itu yang punya potensi besar. Tidak jarang dari mereka yang punya keahlian di atas laki-laki yang sangat layak untuk dikembangkan. Tidak jarang dari mereka yang punya mimpi besar dan mengubur mimpi mereka setelah menikah (Hiks..).

Perempuan terlepas dari segala kewajiban dasar yang melekat sebagai istri, dan ibu, mereka adalah manusia yang punya mimpi. Tidak ada yang salah dengan fakta ini, bukan? Memangnya kenapa jika mereka ingin punya pendidikan setinggi mungkin? Mereka juga ingin menikah, ingin menjadi ibu, ingin mengurus rumah, tetapi juga ingin mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Mereka ingin berpendidikan tinggi, menjelajah, menarik pelajaran dari pengalaman dan berbagi.

Sulitnya adalah menentang perasaan. Perempuan dengan segala kelebihannya terkadang lupa, lupa pada kodratnya. Dan lelaki dengan segala kodratnya juga selalu ingin menjadi kaum nomor satu. Maka sampai kapanpun, tidak akan ketemu benang merahnya.

Hiduplah dengan mimpi, mimpi menjadi ibu, istri, dan mimpi mewujudkan semua mimpi besar. Kali ini saya lebih senang mengutip istilah ‘kalau jodoh tidak akan kemana..’, bagi setiap kita, jodoh adalah takdir yang telah disuratkan jauh sebelum kita dilahirkan di dunia. Bermimpilah maka Allah SWT akan memeluk mimpi-mimpi kita. Bermimpi besar dan berani mewujudkannya. Jika jodoh itu akan datang, jika ia adalah ketentuan, sudah selayaknya tidak ada kekhawatiran bukan? Yang perlu kita lakukan adalah meyakini sekuat mungkin dan berusaha sekeras mungkin. Berkhusnudzhan…

Atau yang lebih beruntung lagi adalah mereka yang mendapat dukungan penuh dari pendamping, terlepas dari mereka bisa mendapatkan mimpi seperti yang kita dapatkan atau tidak. Karena ukuran ketulusan cinta sejatinya adalah apa yang kita berikan padanya untuk membuatnya lebih baik.

Dan perempuan hebat adalah yang hebat di rumah dan di luar rumah, semoga kita adalah salah satu di antara mereka yah..
Cc; for all woman who have a great dream😉

by: puspichan palazzo<a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s