REALITAS AKTIVIS HARI INI

Begitu banyak para calon pemimpin di organisasi kita yang berkoar-koar meneriakkan visi dan misi mereka di setiap kampanye. Tata kalimat dan bahasa boleh berbeda, namun biasanya, conten visi dan misi yang disampaikan tidak jauh-jauh dari yang namanya ‘bermanfaat dan membuat perubahan menjadi lebih baik’ alias memberi nilai tambah. Di sisi lain, para staf dan pengurus organisasi juga tidak berbeda. Setelah proses yang sulit ketika wawancara, dengan janji dan komitmen pada organisasi dengan motivasi umum ingin mencari pengalaman dan ingin memberi dan berkontribusi yang terbaik.
Orang-orang ini katanya ingin membuat perubahan, namun datang di agenda organisasi saja masih terlambat. Acara-acara organisasi yang dimulai terlambat menjadi hal yang biasa.
Orang-orang ini katanya ingin membuat perubahan, namun pengabaian terhadap hal-hal kecil cukup parah. Membuang sampah sembarangan, semena-mena terhadap fasilitas umum menjadi hal yang biasa.
Orang-orang ini katanya ingin membuat perubahan, namun tugas-tugas yang diberikan dengan jangka waktu sebulan, dua minggu, seminggu, atau dua hari, hasilnya sama saja karena toh, tugasnya tetap saja dikerjakan sehari sebelum deadline.
Orang-orang ini katanya ingin membuat perubahan, namun mengatur aktivitas harian saja masih kesusahan. Pagi-pagi bangun terlambat dengan alasan kelelahan akibat banyak aktivitas, berangkat kualiah terburu-buru tanpa sarapan dengan alasan tidak sempat. Di kuliah, tidur dengan alasan bosan dan kelelahan. Setelah kuliah, langsung menuju sekretariat dan rapat organisasi, full sampai malam. Malam hari, begitu tiba di kostan, mandi, makan malam lalu tidur sampe pagi dengan alasan kelelahan. Begitu seterusnya, aktivitas yang berputar pada hal-hal tersebut. Orang-orang ini merasa mereka tidak pernah punya waktu untuk meningkatkan kapasitas personal mereka, kapasitas akademik, kapasitas fisik, kapasitas ruhiyah. Alasannya standar: SIBUK.
Orang-orang ini katanya ingin membuat perubahan, namun metode yang dipakai standar. Kebanyakan masih menggunakan cara lama; LEGITIMASI. Rasanya, jika telah menjadi pemimpin apa atau koordinator apa, rasanya sudah cukup puas. Orang-orang seperti ini dengan mudah menolak atau menerima sesuatu dengan alasan ‘kebijakan’.
Orang-orang ini katanya ingin membuat perubahan. Namun, merubah diri mereka sendiri saja mereka belum mampu. Orang-orang ini katanya ingin menyelesaikan masalah orang lain dan sekitar bahkan yang lebih ekstrem ingin menyelesaikan masalah bangsa ini, namun menyelesaikan masalah mereka sendiri saja, mereka belum mampu.
Mencari kambing hitam, tidak berani mengevaluasi diri sendiri, mengasihani diri sendiri, terbiasa dengan ‘safe zone’, berpikir terlalu birokratis alias seperti orang kebanyakan dan manja lebih mendominasi dibanding melihat ke dalam, menetapkan standar, berpikir out of the box, tegas dan disiplin.
Oleh sebab itu, jangan kaget jika ternyata perubahan dan dampak yang diberikan tidak begitu signifikan. Syukur-syukur masih menggunakan kalimat ‘dampak yang tidak terlalu signifikan’, bagaimana dengan organisasi yang bukan kebaikan yang diberikan, justru malah menghancurkan apa yang telah dibangun generasi sebelum mereka dan berdalih berbagai macam faktor dan kondisi eksternal yang tidak ideal sebagai penyebab utama. Kompetensi mereka boleh diacungin jempol, namun dalam hal karakter, tidak banyak yang bisa diacungin jempol. Jangan heran, jika mayoritas pengalaman organisasi hanya sekedar berakhir pada curriculum vitae.
Percaya atau tidak, orang-orang yang mampu melakukan perubahan dan menyelesaikan permasalahan publik adalah orang-orang yang telah selesai dengan diri mereka sendiri. Masalah yang mereka hadapi adalah masalah besar yang tidak lagi berkutat pada masalah pribadi.
Umar bin Khattab, pernah ditanya kapan beliau tidur? Umar menjawab, jika aku tidur pada siang hari, maka aku telah mengabaikan rakyatku, dan jika aku tidur malam hari, maka aku telah mengabaikan ibadahku. Umar ketika beliau menjabat sebagai khalifah, masalah beliau bukan lagi berkutat pada masalah-masalah pribadi seperti tidur dan ibadah yaumiyah.
Orang-orang yang telah selesai dengan diri mereka sendiri bukanlah orang-orang yang senantiasa secara personal kehidupan mereka telah tercukupi dan tanpa kesulitan. Tidak jarang, orang-orang ini justru memiliki sisi kehidupan pribadi yang sangat sulit. Namun, mereka adalah orang-orang yang mampu dengan sangat bijak memisahkan area privat dengan area publik. Kesulitan dalam area publik bukan menjadi alasan dan hambatan untuk menjadi orang-orang hebat di area publik.
Lihat bagaimana Umar sengaja mengurangi jatah makanan dan menghilangkan kemewahan ia dan keluarganya ketika tiba masa sulit dan kelaparan pada rakyatnya. Lihat bagaimana Mus’ab bin Umair begitu dibenci oleh ibunya dan dicabut seluruh kemewahan dari dirinya. Namun, itu semua bukan apa-apa dibanding dengan kepedulian umar sebagai Khalifah menyelesaikan masalah rakyatnya mulai dari yang sederhana. Berkeliling di setiap malam, memberi makan keluarga yang kelaparan, mengangkat karung gandum dan membuat makanan dengan tangannya sendiri untuk keluarga yang kelaparan. Lihat bagaimana Mus’ab begitu kokoh sebagai pemegang panji kaum muslimin dalam perang. Ketika tangan kanannya ditebas, ia memegang panji dengan tangan kirinya dan ketika tangan kirinya ditebas, ia masih memegang panji itu dengan mendekap dengan dadanya. Sampai kemudian dadanya ditusuk, akhirnya panji itu terlepas dari dirinya.
Sebuah kontribusi yang luar biasa, selalu terlahir dari orang-orang yang luar biasa, orang –orang yang telah selesai dengan dirinya.
Kembali kita bercermin pada diri kita? Apakah kita telah selesai dengan diri kita sendiri? Atau justru bukan selesai dengan diri sendiri, malah sebaliknya merepotkan orang lain denaan masalah-masalah kita, dengan diri kita dengan kepentingan kita? Maka, jika orang-orang yang katanya ingin membuat perubahan, ingin berkontribusi ini masih belum selesai dengan diri mereka sendiri, maka jangan kaget jika lantas organisasi dimana mereka berada menempati level yang biasa-biasa saja, tidak ada standar prestasi, kegiatannya mengulang tahun-tahun sebelumnya nyaris tanpa kemajuan, dan terakhir orang-orang seperti ini tidak pernah bisa optimal dalam pekerjaan-pekerjaan mereka. Hanya sebatas formalitas, rutinan, dan kebanggaan semu atas pekerjaan-pekerjaan yang telah mereka lakukan. Padahal sejatinya, they do nothing.

(Puspi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s