Ghibah lagi, lagi, lagi

Perkenankan saya sedikit berbagi. Setelah lama tidak menulis di media ini dikarenakan sedang fokus pada aktivitas lain, namun kali ini saya tertarik untuk berbagi cerita. Sekedar berbagi dengan segala keterbatasan ilmu saya mungkin. Semoga jadi pembelajaran bagi diri saya dan orang lain. Bukankah lebih menarik mengambil pelajaran dari cerita?
Malam ini saya sedang berada di kamar kosan, baru saja selesai shalat maghrib. Baru akan beranjak dari posisi saya saat ini, mau tidak mau telinga saya dipaksa membesar karena suara-suara yang tidak enak terdengar dari ruang Tv kosan. Beberapa orang yang disebut da’i (red: akhwat berkerudung rapih) sedang asyik membicarakan sosok akhwat lain. Pembicaraannya semakin membuat telinga saya membesar. Why? Karena pembicaraan ini sudah basi akut (menurut saya). That is about physicly performance (penampilan). Uniknya nama saya kembali tersebut di dalam pembicaraan ini walaupun bukan saya yang dijadikan objek penderita pertama dalam aksi ghibah ini. Intinya sih sudah bisa ditebak, pembicaraannya seputar si anu gaya jalannya begini, si anu kelihatan cantik, si anu sepatunya agak high heel, si anu bla bla bla…
How interesting it is, right?
Saya mungkin bukan orang yang punya kapasitas untuk mendefinisikan siapa itu da’i kampus? Apalagi mendeskripsikan siapa itu akhwat berkerudung rapih. Silahkan Anda membangun persepsi masing-masing pada alam bawah sadar Anda. Saya kira kita punya benang merah yang jaraknya tidak lebih dari nol koma sekian mili.
Dan saya juga bukan orang yang terlalu peduli apa yang mereka bicarakan, apalagi siapa yang sedang mereka jadikan korban. Namun saya pikir, untuk kualifikasi sebagai seorang yang dipandang baik (ke belakang, saya akan gunakan istilah ini), rasanya sangat tidak pantas masih bertetangga dengan ghibah.
Rasulullah Saw bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “ Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi Saw bersabda, “ Kamu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya.” Ditanyakan, “ Bagaimana jika apa yang aku katakana itu ada pada diri saudaraku itu?” Nabi Saw menjawab, “ Jika apa yang kamu katakana itu ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menggunjingnya dan jika tidak ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menyebutkan hal yang dusta tentang dirinya.” (H.R. Muslim)
Entah sudah berapa kali (dalam satuan tak terhitung) kasus ini berulang pada waktu, tempat dan orang-orang yang berbeda. Namun, kok bisa-bisanya kebiasaan seperti ini masih menjadi santapan kita ya? Oke, kalaupun ada yang salah pada saudara kita yang lain, sebegitu tidak cerdasnya kah kita berharap kondisi lebih baik dengan menceritakan keburukan dirinya (menurut kaca mata kita)? Atau, berhak kah kita menjatuhkan hukuman gosip yang meloncat-loncat dari satu kosan ke kosan lain hanya karena mereka, orang-orang yang menjadi objek penderita, lebih cantik secara fisik atau secara penampilan lebih berbeda dari kita?
Sejujurnya saya tidak ingin berlama-lama dengan pembahasan ini. Toh, rasanya orang-orang yang suka menceritakan perbedaan yang terlihat pada orang lain, juga sudah memahami sekali hal ini. Semoga kita tidak menjadi orang yang merasa paling berhak menilai dan menghakimi orang lain. (Puspi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s