Ini tentang sahabatku (2); aku mencintai tantangan

Pada awalnya, aku berpikir aku hampir lupa apa yang dinamakan tantangan. Bagaimana rasanya didera perasaan takut, khawatir, menangis dalam hati, sesak dan menahan diri, berambisi meraih apapun yang harus kudapatkan, menentang dan ditentang, keras kemauan, menyerah berarti kalah. Padahal sebenarnya tidak sama sekali. Perbedaannya adalah aku mengabaikannya. Aku mencari-cari celah dimana aku bisa keluar dan menikmati kebahagiaanku meski sedikit. Dan entah sampai kapan, yang pasti sampai saat ini aku masih berusaha menikmati kebahagiaan dan harapan kecil itu.

Malam ini, dari ribuan malam yang kulewati dengan kebahagiaan kecilku, aku terlibat pembicaraan panjang dengan salah seorang sahabat dekatku. Dirinya baru saja mengajukan pengunduran diri dari tempatnya bekerja, dengan alasan tempat tersebut telah sampai pada titik kenyamanan yang membuatnya merasakan zona nyaman. Menurutnya, ini sangat tidak baik. Mengapa? Karena bagi pencinta tantangan, berkutat dengan zona nyaman adalah sebuah sihir yang mematikan. Maka ketika telah sampai pada titik itu, keluarlah dan pergi , cari tantangan baru.

Inilah yang sedang ia kerjakan. Kupikir, ini bukan fakta sederhana. Mengingat ia telah menghabiskan hampir dua tahun waktunya untuk mengabdi di daerah, mengajar di daerah yang tentu saja tidak mudah, kali ini ia memutuskan untuk mencari tantangan lain, sementara ia adalah perempuan.

Aku berkali-kali mengatakan padanya ini keren. Namun yang sebenarnya adalah aku mengaguminya. Ya, selalu mengaguminya. Dirinya memiliki hidup. Inilah hidup. Dengan gaji yang menurutku mapan, ia membuat keputusan bahwa ia harus mengundurkan diri untuk sebuah alasan yang mungkin hanya satu dari seribu perempuan di dunia ini yang melakukannya.

Malam ini pula sepertinya Allah berbaik hati membagi ceritanya padaku mungkin dengan pesan tersirat bahwa harusnya aku tidak berleha-leha dengan kebahagiaan kecilku.

Bukankah hidup ini adalah tantangan? Mengapa tidak mengubahnya menjadi games yang menyenangkan. Ada saatnya kalah, ada saatnya menang.

Hidup ini sangat disayangkan jika semuanya berjalan nyaman dan damai bukan? Tantangan itu membuat rasa yang berbeda di dalam hidup. Membuat pemiliknya bersabar dan bersyukur. Ada saat-saat ketika perasaan bersabar itu memenuhi hati, ketika tantangan terasa buruk dan menyakitkan. Ada saat-saat ketika perasaan bersyukur itu memenuhi hati, berdesak-desakan hingga tak sanggup menahan luapan dengan lisan, ketika tantangan itu berakhir memuaskan jiwa. Inilah hidup.

Teruslah berkarya sobat, menjelajah, bersahabat dengan tantangan dan bermimpi.

Dan Allah swt akan memeluk mimpi-mimpi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s