Ini tentang Sahabatku

Ini tentang seseorang. Seseorang yang luar biasa dalam pikiranku. Dia adalah sahabatku sendiri. Kusebut demikian karena tak mudah bagiku mempercayai orang lain. Namun, aku justru mengagumi beberapa bagian dirinya. Kutulis ceritanya di sini, karena kupikir dia sendiri mungkin tak punya waktu untuk menuliskannya.

Dia perempuan yang hebat. Selalu punya ide-ide yang hebat di kepalanya. Selalu punya suara untuk bilang ya dan tidak. Selalu punya banyak waktu untuk membagi kehebatannya dengan orang lain. Selalu punya banyak alasan untuk menjalani hidupnya meskipun nun jauh dari kota seperti yang kutempati saat ini. Dan, yang paling kukagumi, adalah selalu punya alasan untuk melawan kesendiriannya dan tetap berbuat sesuatu meski tidak ada siapapun bersamanya (red: teman-teman misalnya).

Dia berada di satu fakultas denganku. Lulus dari departemen ekonomi dengan nilai yang bagus apalagi dia punya pemikiran dan ide-ide yang bagus. Kupikir dia akan jadi salah satu dari ribuan mahasiswa yang setelah lulus, lantas bersiap menyerbu big company dengan CV dan interview mengesankan.

Namun, kenyataannya saat ini ia malah memilih kembali ke daerahnya di lampung Barat kemudian mengajar anak-anak di sana. Awalnya kupikir ini pilihan yang setiap orang memang harus membuatnya. Namun, saat kutahu bahwa ia justru mengajar apa saja, bahkan mengajar bidang yang tidak ada hubungannya dengan apa yang dipelajarinya di bangku kuliah, aku menyerah dengan pemikiranku.  Ia mengajar di sebuah SMK yang anak-anak di dalamnya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Atau lebih tepatnya ‘miskin’. Di sanalah anak-anak dengan latar belakang keluarga petani dan nelayan mengakhirkan nasib mereka. Ah, kalau sudah begini, aku jadi serasa Andrea Hirata yang menceritakan nasib anak-anak Balitong. *senyum-senyum sendiri.

Di SMK, sahabatku ini mengajar kimia di sembilan kelas. Bayangkan lulusan ekonomi mengajar mata pelajaran kimia. Meskipun dia sendiri mengatakan, mata pelajaran kimia SMK berbeda dengan kimia di SMA. Namun kupikir, tentu saja mengajar kimia tanpa bersentuhan sedikitpun dengannya 4 tahun di kampus pasti membutuhkan usaha khusus.

“Ah…tidak sesulit yang dibayangkan kok. Sekarang saja masih belajar Stoikiometri.”

“Stoikiometri?” Tanyaku mencoba mengingat-ngingat lagi topik ini.

“Iya, ituloh yang konsep mol gitu. Mudah kan?”

Aku hanya manggut-manggut, tidak tahu mau berespons apa.

Aku sempat bertanya mengapa tidak mengajar di SMA saja. Mungkin dengan begitu dia bisa mengajar di bidang yang lebih layak. Jawabnya sederhana. Namun, jawaban ini justr membuatku terdiam agak lama.

“Haha…justru di situ letak poinnya. Mengajar di SMA tentu saja akan lebih mudah. Mengapa? Karena di Lampung, anak-anak lulusan SMP yang berasal dari menengah ke atas pasti akan melanjutkan pendidikannya ke SMA. Karena sudah jelas, mereka pasti akan melanjutkan kuliah setelahnya. Orangtua mereka mampu membiayai. Anak-anak SMA akan lebih mudah dimotivasi. Kita dengan mudah bisa memotivasi mereka untuk kuliah di sana, di sini. Mereka akan lebih mudah tersemangati dalam belajar, juga dalam mimpi. Namun, tidak demikian dengan SMK. Anak-anak di sini, adalah anak-anak yang sudah yakin dengan nasib mereka. Bayangkan, meskipun mereka melanjutkan pendidikan sampai ke SMK, namun pada akhirnya orangtua mereka mengatakan nanti setelah lulus mereka diminta ke sawah melanjutkan nasib jadi petani atau nelayan, atau yang lebih keren paling cuma jadi montir di bengkel. Karena sekarang lulusan SMP tidak diterima lagi di bengkel. Ijazah, sama tidak pentingnya bagi mereka. Toh, mereka sudah yakin akan lulus, belajar atau tidak. ”

Kemudian lanjutnya,  “Pernah pada suatu kesempatan, seorang guru berusaha menyemangati anak-anak di kelas dengan mengatakan jika setelah lulus nanti mereka bekerja dan mengumpulkan uang, mereka bisa melanjutkan kuliah. Namun, tahu tidak apa yang justru dikatakan oleh anak-anaknya?”

Aku menggeleng.

“Salah seorang di antaranya berkata, itu tidak mungkin, bu. Kami tahu, sekeras apapun kami bekerja, pasti tidak akan cukup untuk membiayai kuliah di universitas swasta…”

Belum selesai dengan kalimatnya, aku memotong,

“Mengapa harus di universitas swasta?” Tanyaku.

“Karena hanya universitas swasta lah yang menyediakan kelas malam. Pagi sampai sore mereka kan bekerja. Dan sekeras apapun usaha mereka bekerja, uangnya tidak akan mencukupi untuk biaya kuliah di swasta. Maka sejak itu tidak ada lagi kata mimpi untuk kuliah di sana. Karena itu, bagiku mengajar ilmu sekelas kimia di kelas tidak sebegitu penting jika dibandingkan dengan mengajar mereka nilai-nilai seperti kerja keras, kejujuran. Itulah yang kulakukan. Dan justru di sinilah letak kesenanganku. Membuat mereka menjadi dokter, arsitek, tentu saja tidak mungkin. Namun, membuat mereka membenci korupsi dan mencintai kejujuran, mencintai kerja keras, optimis  dan sederet nilai-nilai lain tentu saja masih mungkin. Kimia atau pelajaran lain tidaklah begitu penting bagi mereka. Toh, pada akhirnya mereka akan lulus, entah mereka mengerti atau tidak, bisa mengerjakan atau tidak.”

Selain mengajar di SMK, sahabatku ini juga mengajar di Universitas Terbuka. Di sana ia justru mengajar IPA, Matematika dan ilmu perpustakaan.Bidang yang tidak ada hubungannya dengan ekonomi.

Selain itu, dia juga saat ini mulai membuka sebuah bimbingan belajar di rumahnya. Karena kebetulan rumahnya berada di pinggir jalan. Uniknya, karena baru saja berdiri, sahabatku ini adalah pemilik, pemimpin, dan sekaligus pengajar. Dia mengajar semua mata pelajaran. Bayangkan semua pelajaran. Dan hebatnya lagi, meskipun baru memiliki siswa sebanyak 20 orang, namun mereka adalah siswa-siswa SMA. Membayangkan dia berusaha keras memanage, belajar dan menguasai semua pelajaran saja sudah sulit.

Namun, kupikir semua ini akan berakhir ketika dia berkata beberapa bulan lagi akan bekerja di PEMDA. Namun, ketika dia menyebutkan penempatannya, aku urung mengucapkan selamat. ‘Mesuji’, yang terbayang di benakku adalah sebuah daerah yang tandus, terpencil dan rawan konflik, khususnya Konflik terkait sawit baru-baru ini. Namun, menurutnya, konflik di Mesuji bukan hanya konflik sawit, di luar itu daerah ini memang terkenal dengan rawan konflik. Bahkan pejabat daerahnya sampai sekian lama juga belum dilantik karena masalah konflik lagi, konflik lagi.

“Dirimu tidak berniat bekerja di kota? Atau setidaknya memikirkan tentang masa depan lain selain bekerja di daerah terpencil?”

“Karena memang inilah mimpiku; mengabdi di daerah. Memang tidak mudah, namun di sana lah tantangannya.”

“Apa di sana dirimu akan punya teman?”

“Tentu saja ada; laptop dan modemku tercinta. Haha…”

Kemudian lanjutnya “Kalau mengingat apa yang aku jalani sekarang, rasanya aku tidak perlu menyesal tidak jadi masuk Indonesia Mengajar. Di IM, pengalaman seperti ini mungkin hanya akan kuperoleh selama setahun. Setelah itu mungkin aku akan kembali ke dunia bekerja seperti halnya kebanyakan orang.”

Begitulah dirinya. Ketika kebanyakan orang berpikir kuliah tinggi-tinggi karena mereka khawatir tidak sukses, karena khawatir tidak terkenal, karena khawatir tidak kaya, karena khawatir tidak bisa melanjutkan hidup dengan nyaman di dunia yang semakin lama semakin serba mahal, justru sahabatku ini tidak sempat memikirkannya. Semua orang pasti butuh uang untuk urusan perut, namun lebih dari itu ia punya mimpi sendiri yang mungkin hanya nol koma sekian persen mahasiswa yang mempunyai mimpi ke arah sana.

Mimpinya sederhana; memberi dan membagi apa yang dia punya sebesar mungkin ke orang lain, ke tempat yang rasanya membutuhkannya.

Aku mengaguminya. Lebih karena ia bisa melakukannya dan aku tidak. Lebih dari itu. Aku mengagumi hari-hari yang bisa ia lewati meski ia sendiri. Aku mengagumi perasaan normal yang ia lawan dan enyahkan untuk bersenang-senang atau mengeluh bahwa ia butuh teman seperti di kampus dulu. Semoga Allah SWT selalu menjagamu…(dedicated; for R.A. who still fights for her dreams)

One thought on “Ini tentang Sahabatku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s